PENDAKIAN
17 AGUSTUS 2014
Puncak halau-halau 17 agustus 2014
SALAM LESTARI....!!!
Puncak
halau-halau 17 agustus 2014
Gunung halau-halau adalah gunung tertinggi di kalimantan
selatan (1901 MDPL), di atas puncak ini kami dapat menikmati keindahan
alam , kota-kota yang besar menjadi sangat kecil hingga dapat di ukur dengan
jari-jari tangan. Di puncak halau-halau udara sangat sejuk, alam yang
bersahabat saat itu membuat
mata kami terpana oleh pemandanganya yang asri..
(1)
‘’MAPALA
GRAMINEA”
Memang
tak mudah untuk menggapai ini, berbagai rintangan kami hadapi, semangat, doa,
fisik,mental serta persiapan yang matang sebelum berangkat lah bekal kami
sampai di gunung tertinggi di kalsel ini.
Rasa lelah akan
terbayar apabila sampai di puncaknya, sungguh pemandangan yang luar biasa...
Puncak
Kami utusan dari
“mapala graminea” dan pecinta alam lainnya,memulai perjalanan dari sebuah desa terpencil, lumayan jauh dari
perkotaan.desa ini masih memegang erat
adat dan istiadatnya, orang di desa qiu juga ramah-tamah terhadap tamu,
bahkan di sini mempunyai rumah balai yang di khususkan untuk tamu yang ingin
beristirahat
(2)
Kami mulai berjalan menuju puncak,
sekitar
15 menit di perjalanan dari desa qiu, kami sudah mulai menanjak pada medan
jalan yang juram, dengan membawa carrier yang berisikan peralatan dan bahan
makanan,lumayan berat untuk bobot tubuh kami yang beperawakan kecil, tapi
logistik cukup untuk kami bertahan hidup beberapa hari di dalam hutan
Air
keringat mulai menumpuk di baju kami, Namun rasa letih masih belum terasa , itu
semua karena pemandangan di sisi jalan yang menghiasi pendakian kami.
perjalanan menuju sungai
karuh
Dari desa qiu menuju puncak gunung halau-halau di perkirakan memakan
waktu hampir 10 jam, selama perjalanan
kami sering mengistirahatkan diri setiap 30 menit perjalanan. Jalan yang naik – turun menempatkan kami pada
berbagai macam pemandangan, misalnya ; sungai, lembah,bukit dan gunung-gunung.
Suara hewan yang ada di habitat itu merupakan suara hiburan tersendiri bagi
kami. ‘’sebagai seorang pecinta alam, kita tidak bisa menaklukkan alam itu
melainkan memahaminya’’.
di sungai karuh
Hari itu kami tidak
langsung menuju puncak halau-halau, melainkan ‘kami’anggota Graminea memutuskan
untuk bermalam di gunung ‘’sungai karuh’’.
Selain kami, banyak juga
komunitas pecinta alam lainya yang bermalam di tempat ini.
Kurang lebih 5 jam perjalanan dari desa qiu sampai ‘’sungai
karuh’’ membuat nafas kami ngos-ngos’an
‘’Tanjakan dan turunan di
perjalanan cukup melelahkan kami hari ini’’
v
Ada dua tenda yang kami dirikan di sungai karuh ini sebagai
perlindungan dari hujan dan ftbinatang kecil pengganggu.
Setelah itu kami mulai memasak dan membersihkan diri,
‘’Pendakian yang paling baik adalah pendakian berkelompok dari pada perorangan’’
“Seorang pendaki gunung harus pintar memanfaatkan
waktu sebaik-baiknya’’
|
Pagi
itu, matahari mulai terbit
Kami sudah
terjaga dan siap packing peralatan, seperti tenda,nesting dan peralatan lainya.
Kami mengisi
air kedalam botol masing-masing untuk siap melanjutkan perjalanan pendakian
puncak halau-halau, sebelum berangkat tak lupa kami melakukan pemanasan
terlebih dahulu untuk meregangkan otot-otot agar tidak terjadi kram di saat perjalanan..
Dari sungai karuh menuju puncak halau-halau, memakan
waktu kurang lebih 5 jam perjalanan porsi langkah kaki kami jika banyak
megistirahatkan diri, waktu tercepat yang dapat kami bisa adalah 4 jam jika
kecepatan kami maksimal, walaupun hari itu matahari sangat terik, namun di
perjalanan menuju puncak hanya hawa sejuk lah yang kami rasakan, di sepanjang
jalan menuju puncak banyak pohon-pohon tinggi yang menyelimuti pemandangan kami
Sekarang kami tiba di“penyaungan”
“Penyaungan” adalah tempat mata air terakhir, sebelum sampai di puncak gunung halau-halau
Deras air
yang keluar dari sela tanah dan batu hampir sama deras nya air kencing anak kecil
umur 10 tahun
Namun di balik itu semua “syukur lah yang kami
panjatkan kepada tuhan, saat mengisi air di pancuran ke dalam botol aqua plastik yang kosong” melajarkan kepada kami
akan selalu ingat pengorbanan orang tua yang betapa sulit dan begitu sabarnya
beliau mengongkosi dan membimbing kita hingga kita menjadi seseorang yang
bermanfaat di bumi ini. Sadar saja, walau sedikit air yang masuk kedalam botol
Tetes demi tetes akhirnya botol air aqua pun penuh
juga dengan air yang bersih dan siap minum.
Seperti itulah halnya orang tua dengan kesabarannya
membimbing memberikan pengorbanan jasmani dan rohani hanya supaya anaknya
menjadi orang yang berguna untuk bangsa dan negaranya.
Kami hampir tiba di puncak
Sekitar 1,5 jam lagi dari penyaungan bawah tempat
kami mengisi air tadi.
Sering kami berpapasan dengan mapala lain dan saling
kejar-kejar’an menuju puncak , adrenaline kami di uji rasa bersaing untuk cepat
sampai ketujuan pun terasa,,
“Wajar saja muncul rasa bersaing untuk cepat sampai
kepuncak”..!
Pasalnya tanah yang ada di puncak hanya kurang-lebih selebar lapangan
futsal,sedangkan orang yang ingin bermalam dan mendirikan tenda disana
sangatlah banyak.
MAPALA
GRAMINEA
KITA
JAYALAH
SELALU
|
ALAM
INI TITIPAN DARI TUHAN
DAN
TITIPAN
ITU HARUS DI JAGA DENGAN BAIK
|
FINALLY....!!!
Akhirnya,,
Tepat
jam 15:56 hari sabtu,
16
agustus 2014
mapala graminea dan
organisasi mapala lainya
Lestarikan alam kita
jayalah slalu
|
Anggota keluarga pacinta alam di puncak halau-halau
upacara bendera merah-putih
di puncak halau-halau
Pagi, jam 9 pagi, hari minggu, 17 agustus 2014 di “puncak halau-halau”
Kami semua pacinta alam diatas gunung tertinggi di
kalimantan selatan ini ‘’gunung halau-halau’’ mengalunkan lagu dengan tegas
yaitu lagu kebangsaan indonesia
raya.
|
Kami
bermalam dipuncak menantikan tanggal 17 agustus 2014
Hi...dup...lah... indonesia raya...
|
Setelah melaksanakan
kegiatan apel bendera merah - putih di puncak halau-halau 1901 (mdPl), kami bergegas pulang , kami
mulai packing semua peralatan,bahan logistik dan sampah-sampah yang ada di
sekitaran kami. Sampah itu adalah hasil sisa dari logistik kami.
Setelah semua di packing, kami mulai mengambil foto-foto dari atas
puncak bersama anggota pacinta alam lainnya, moment seperti ini hanya ada setiap
1 tahun sekali di tempat ini di tgl 17 agustus’an.
Perjalanan
pulang kami langsung menuju desa qiu dan kami menginap lagi di balai desa
qiu.dari desa qiu kami pulang menuju rumah.
Penulis,
Muamar akbar
Anggota muda mapala graminea
Faperta unlam.